Ekonom menyatakan kondisi perekonomian Indonesia saat ini berada dalam
keadaan yang lebih kompleks dibandingkan pada 2008.
Direktur Eksekutif Mandiri Institute Destry Damayanti mengatakan
permasalahan yang dihadapi sekarang dibandingkan kondisi pada 2008 dan 2009
sangat berbeda karena kondisi perekonomian saat ini justru lebih kompleks.
Pada 2008, Indonesia masuk dalam kondisi krisis akibat kasus perumahan di
Amerika Serikat (AS).
"Ekonomi Indonesia pada 2009 tumbuh 4,5% karena banyak aliran masuk ke
Indonesia, dengan harga komoditas yang naik, mempengaruhi pendapatan
masyarakat. Memang ekonomi global buruk, tapi ada booming komoditi,"
ujarnya di Plaza Mandiri, Senin (21/9/2015).
Nilai tukar rupiah semakin terpuruk mencapai Rp 14.100 per dolar
AS. Berdasarkan Bloomberg Dollar Index, rupiah ditutup di level Rp 14.133 per
dolar AS pada Rabu (26/8), melemah 0,56 persen atau 79 poin dari penutupan
Selasa (25/8) di level Rp 14.054 per dolar AS.
Sedangkan menurut kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate(Jisdor) rupiah di level Rp 14.102 pada Rabu atau melemah 35 poin dibandingkan Selasa di level Rp 14.067 per dolar AS.
Analis pasar uang Satrio Utomo mengatakan, saat ini semua negara masih menunggu perkembangan kepastian kenaikan suku bunga the Fed. Jangka waktu yang lama tersebut dinilai membuat ketidakpastian tinggi."Sebab, perekonomian Indonesia dalam mode diperlambat terus sampai Bank Indonesia yakin bahwa the Fed naikin suku bunga, dan melihat reaksi pasar. Pelemahan rupiah tidak bisa dihindarkan," ujarnya saat dihubungi Republika, Rabu (26/8).
Sedangkan menurut kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate(Jisdor) rupiah di level Rp 14.102 pada Rabu atau melemah 35 poin dibandingkan Selasa di level Rp 14.067 per dolar AS.
Analis pasar uang Satrio Utomo mengatakan, saat ini semua negara masih menunggu perkembangan kepastian kenaikan suku bunga the Fed. Jangka waktu yang lama tersebut dinilai membuat ketidakpastian tinggi."Sebab, perekonomian Indonesia dalam mode diperlambat terus sampai Bank Indonesia yakin bahwa the Fed naikin suku bunga, dan melihat reaksi pasar. Pelemahan rupiah tidak bisa dihindarkan," ujarnya saat dihubungi Republika, Rabu (26/8).
Satrio menyebut
kondisi Indonesia saat ini seperti dalam lingkaran setan. Pertumbuhan ekonomi
yang melambat memberikan sentimen negatif sehingga nilai tukar belum bisa
menguat.
Menurutnya, kondisi
ini hanya bisa dipecahkan kalau Bank Indonesia menerima pelemahan rupiah dan
mendorong pertumbuhan ekonomi dengan menurunkan suku bunga. Sebab, semua negara
saat ini sedang berlomba menurunkan mata uang untuk mendorong daya saing
ekspor.
Selain itu pemerintah diminta harus bisa membangkitkan pertumbuhan ekonomi agar ekspektasi pasar menjadi positif. Salah satunya, pemerintah punya kesempatan menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) karena harga minyak dunia masih terus turun di kisaran 40 dolar AS per barel.
Selain itu pemerintah diminta harus bisa membangkitkan pertumbuhan ekonomi agar ekspektasi pasar menjadi positif. Salah satunya, pemerintah punya kesempatan menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) karena harga minyak dunia masih terus turun di kisaran 40 dolar AS per barel.
Namun, pemerintah
tidak berani menurunkan harga BBM karena takut nanti akan dinaikkan lagi
harganya. Sebab, saat harga BBM diturunkan, harga barang tidak ikut turun.
Sedangkan saat harga BBM dinaikkan harga barang ikut naik, sehingga memicu
inflasi.
Sementara itu, menurutnya bursa saham sudah agak artificial atau masih tidak sesuai dengan fundamentalnya. Dua hari terakhir operasi pasar yang dilakukan perusahaan BUMN membuat harga saham-saham BUMN bisa bertahan.
Sementara itu, menurutnya bursa saham sudah agak artificial atau masih tidak sesuai dengan fundamentalnya. Dua hari terakhir operasi pasar yang dilakukan perusahaan BUMN membuat harga saham-saham BUMN bisa bertahan.
Masalahnya, kata
Satrio, koreksi di bursa regional belum selesai. Meskipun dalam jangka pendek
harga saham bisa rebound tapi tetap akan berujung pada keputusan the Fed untuk
menaikkan atau tidak menaikkan suku bunga pada September 2015. "Kalau
dinaikkan, masalahnya selesai, tapi sekarang semuanya enggak jelas,"
ujarnya.
> http://finansial.bisnis.com/read/20150921/9/474729/ekonom-sebut-kondisi-ekonomi-indonesia-saat-ini-lebih-kompleks
> http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/makro/15/08/26/ntowsl349-pengamat-kondisi-ekonomi-indonesia-seperti-dalam-lingkaran-setan